31 Oktober 2012
Surat Nabi Muhammad s.a.w Kepada Hercules (Pemerintah Rome)
Surat Nabi Muhammad s.a.w Kepada Hercules (dalam sebuah hadis yang panjang)
Hadis riwayat Abu Sufyan r.a, ia berkata: Aku berangkat ke Syam pada masa perdamaian Hudaibiah, iaitu perjanjian antara diriku dan Rasulullah saw. Ketika aku berada di Syam, datanglah sepucuk surat dari Rasulullah saw. yang ditujukan ke Hiraklius, Penguasa Romawi.
Yang membawa surat itu adalah Dihyah Al-Kalbi yang langsung menyerahkannya kepada Penguasa Basrah. Selanjutnya, Penguasa Basrah menyerahkan kepada Hiraklius. Hiraklius lalu bertanya: Apakah di sini terdapat seorang dari kaum lelaki yang mengaku sebagai nabi ini?
Mereka menjawab: Ya! Maka aku pun dipanggil bersama beberapa orang Quraisy lainnya sehingga masuklah kami menghadap Hiraklius. Setelah mempersilakan kami duduk di hadapannya,
Hiraklius bertanya: Siapakah di antara kamu sekalian yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang mengaku sebagai nabi ini? Abu Sufyan berkata: Lalu aku menjawab: Aku.
Kemudian aku dipersilakan duduk lebih dekat lagi ke hadapannya sementara teman-temanku yang lain dipersilakan duduk di belakangku. Kemudian Hiraklius memanggil juru terjemahnya dan berkata kepadanya: Katakanlah kepada mereka bahwa aku akan menanyakan kepada orang ini tentang lelaki yang mengaku sebagai nabi itu. Jika ia berdusta kepadaku, maka katakanlah bahwa ia berdusta.
Abu Sufyan berkata: Demi Allah, seandainya aku tidak takut dikenal sebagai pendusta, niscaya aku akan berdusta. Lalu Hiraklius berkata kepada juru terjemahnya: Tanyakan kepadanya bagaimana dengan keturunan lelaki itu di kalangan kamu sekalian?
Aku menjawab: Di kalangan kami, dia adalah seorang yang bernasab baik. Dia bertanya: Apakah ada di antara nenek-moyangnya yang menjadi raja?
Aku menjawab: Tidak. Dia bertanya: Apa kamu sekalian menuduhnya sebagai pendusta sebelum dia mengakui apa yang dikatakannya? Aku menjawab: Tidak.
Dia bertanya: Siapakah pengikutnya, orang-orang yang terhormatkah atau orang-orang yang lemah?
Aku menjawab: Para pengikutnya adalah orang-orang lemah. Dia bertanya: Mereka semakin bertambah ataukah berkurang?
Aku menjawab: Bahkan mereka semakin bertambah.
Dia bertanya: Apakah ada seorang pengikutnya yang murtad dari agamanya setelah dia peluk karena rasa benci terhadapnya?
Aku menjawab: Tidak.
Dia bertanya:Apakah kamu sekalian memeranginya?
Aku menjawab: Ya.
Dia bertanya: Bagaimana peperangan kamu dengan orang itu?
Aku menjawab: Peperangan yang terjadi antara kami dengannya silih-berganti, terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.
Dia bertanya: Apakah dia pernah berkhianat?
Aku menjawab: Tidak. Dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat. Dia melanjutkan: Demi Allah, aku tidak dapat menyelipkan kata lain dalam kalimat jawaban selain ucapan di atas.
Dia bertanya lagi: Apakah perkataan itu pernah diucapkan oleh orang lain sebelum dia?
Aku menjawab: Tidak.
Selanjutnya Hiraklius berkata kepada juru terjemahnya: Katakanlah kepadanya, ketika aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, kamu menjawab bahwa ia adalah seorang yang bernasab mulia. Memang demikianlah keadaan rasul-rasul yang diutus ke tengah kaumnya.
Ketika aku bertanya kepada kamu apakah di antara nenek-moyangnya ada yang menjadi raja, kamu menjawab tidak. Menurutku, seandainya ada di antara nenek-moyangnya yang menjadi raja, aku akan mengatakan dia adalah seorang yang sedang menuntut kerajaan nenek-moyangnya.
Lalu aku menanyakan kepadamu tentang pengikutnya, apakah mereka orang-orang yang lemah ataukah orang-orang yang terhormat. Kamu menjawab mereka adalah orang-orang yang lemah. Dan memang merekalah pengikut para rasul.
Lalu ketika aku bertanya kepadamu apakah kamu sekalian menuduhnya sebagai pendusta sebelum dia mengakui apa yang dia katakan. Kamu menjawab tidak. Maka tahulah aku, bahwa tidak mungkin dia tidak pernah berdusta kepada manusia kemudian akan berdusta kepada Allah.
Aku juga bertanya kepadamu apakah ada seorang pengikutnya yang murtad dari agama setelah ia memeluknya karena rasa benci terhadapnya. Kamu menjawab tidak. Memang demikianlah iman bila telah menyatu dengan orang-orang yang berhati bersih.
Ketika aku menanyakanmu apakah mereka semakin bertambah atau berkurang, kamu menjawab mereka semakin bertambah. Begitulah iman sehingga ia bisa menjadi sempurna.
Aku juga menanyakanmu apakah kamu sekalian memeranginya, kamu menjawab bahwa kamu sekalian sering memeranginya. Sehingga perang yang terjadi antara kamu dengannya silih-berganti, sesekali dia berhasil mengalahkanmu dan di lain kali kamu berhasil mengalahkannya. Begitulah para rasul akan senantiasa diuji, namun pada akhirnya merekalah yang akan memperoleh kemenangan.
Aku juga menanyakanmu apakah dia pernah berkhianat, lalu kamu menjawab bahwa dia tidak pernah berkhianat. Memang begitulah sifat para rasul tidak akan pernah berkhianat.
Aku bertanya apakah sebelum dia ada seorang yang pernah mengatakan apa yang dia katakan, lalu kamu menjawab tidak. Seandainya sebelumnya ada seorang yang pernah mengatakan apa yang dia katakan, maka aku akan mengatakan bahwa dia adalah seorang yang mengikuti perkataan yang pernah dikatakan sebelumnya.
Dia melanjutkan: Kemudian Hiraklius bertanya lagi: Apakah yang ia perintahkan kepadamu?
Aku menjawab: Dia menyuruh kami dengan salat, membayar zakat, bersilaturahmi serta membersihkan diri dari sesuatu yang haram dan tercela.
Hiraklius berkata: Jika apa yang kamu katakan tentangnya itu adalah benar, maka ia adalah seorang nabi. Dan aku sebenarnya telah mengetahui bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka dia berasal dari bangsa kamu sekalian. Dan seandainya aku tahu bahwa aku akan setia kepadanya, niscaya aku pasti akan senang bertemu dengannya.
Dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membersihkan segala kotoran dari kedua kakinya serta pasti kekuasaannya akan mencapai tanah tempat berpijak kedua kakiku ini.
Dia melanjutkan: Kemudian Hiraklius memanggil untuk dibawakan surat Rasulullah saw. lalu membacanya. Ternyata isinya adalah sebagai berikut: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dari Muhammad, utusan Allah, untuk Hiraklius, Penguasa Besar Romawi. Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau mengikuti kebenaran.
Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa seluruh pengikutmu.
(Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah).
Selesai ia membaca surat tersebut, terdengarlah suara nyaring dan gaduh di sekitarnya. Lalu ia memerintahkan sehingga kami pun segera dikeluarkan. Lalu aku berkata kepada teman-temanku ketika kami sedang menuju keluar, Benar-benar telah tersiar ajaran Ibnu Abu Kabasyah, dan sesungguhnya ia benar-benar ditakuti oleh Raja Romawi.
Abu Sufyan berkata: Aku masih terus merasa yakin dengan ajaran Rasulullah saw. bahwa ia akan tersiar luas sehingga Allah berkenan memasukkan ajaran Islam itu ke dalam hatiku.
- Hadis Riwayat Bukhari & Muslim
26 Oktober 2012
Dosa Siapakah Atas Kejahilan Manusia?
Oleh: Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin
Apabila tulisan saya ‘Bolehkah Bukan Muslim Selamat Dari Neraka’ keluar minggu lepas, maka ada pula yang berkata bahawa manusia sepatutnya dapat berfikir sendiri untuk mencari agama yang sebenar. Ada yang bertanya ‘jika ada bukan muslim yang terlepas dari hukuman Allah disebabkan hujah Islam yang tidak sampai kepada mereka, maka siapakah yang bersalah?’.
Idea bahawa manusia tanpa wahyu Allah pun boleh berfikir sendiri untuk memahami agama dengan melihat kepada kebesaran Allah di alam ini adalah idea aliran muktazilah. Namun idea ini tertolak dengan bukti terbesar Allah mengutuskan para rasul dan mewajibkan dakwah serta pengajaran. Jika manusia boleh berfikir tentang agama sebenar sendirian, maka apa perlunya pengutusan para rasul? Apa perlunya diwajibkan dakwah?
Melihat alam ciptaan Tuhan membolehkan manusia menyimpul tentang kewujudan dan kebesaran Tuhan. Namun, manusia tidak mungkin tahu agama yang sebenar melainkan dengan kedatangan hujah wahyu. Jika Nabi s.a.w sendiri tidak tahu tentang agama yang sebenar sebelum ketibaan wahyu, bagaimana mungkin manusia di timur dan barat, di hutan dan padang pasir, yang bodoh dan cerdik, yang terpelajar dan buta huruf, yang kuat dan yang lemah difardukan memahami sendiri agama yang sebenar tanpa kedatangan hujah Islam kepadanya? Kemudian mereka dihukum Tuhan? Mustahil.
Firman Allah: (maksudnya)
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh dari sisi Kami (Al-Quran) sedangkan engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu): apakah Kitab (Al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah itu iman ; akan tetapi Kami jadikannya (Al-Quran) cahaya yang Kami beri petunjuk dengannya sesiapa yang Kami kehendaki dalam kalangan hamba-hamba Kami. dan sesungguhnya engkau (Wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk ke jalan yang lurus. (al-Shura 52)
Tiga Golongan
Rabu lepas saya hadir ke dinner rasmi mingguan anjuran OCIS di Bandar Oxford ini. Di sebelah tempat duduk saya penasihat hak asasi manusia bagi Commonwealth Secretariat. Namanya Treva D Braun. Beliau berbicara dengan saya beberapa tajuk terutama tentang kebimbangan beliau terhadap perlaksanaan Islam akan menjejaskan hak asasi wanita. Saya berbincang tentang salahfaham beliau mengenai wanita dalam Islam. Beliau berkata bahawa mungkin apa yang saya kata itu satu tafsiran namun apa yang berlaku sebaliknya. Beberapa isu dibangkitkan oleh beliau. Ada yang betul, ada yang hanya disebabkan persepsi beliau. Nilai yang berbeza. Apapun gambaran Islam yang ada mengelirukan beliau, atau mungkin sengaja memilih sikap yang demikian.
Semasa mendengar komentar beliau saya sekali lagi teringatkan soalan ‘siapakah yang bertanggungjawab atas terhalangnya hidayah sampai kepada manusia? Ya, secara umumnya tiga golongan paling bertanggungjawab; pertama, mereka yang menghalang hujah Islam atau ajaran Islam yang sebenar sampai kepada manusia. Kedua, mereka yang memutar belitkan kebenaran sehingga manusia keliru dan terhalang maklumat yang sebenar. Ketiga, mereka yang enggan menyampaikan ajaran yang sebenar.
Penghalang ajaran agama bukan sahaja ada di negara bukan muslim seperti beberapa negara komunis, tetapi juga kadang-kala dalam kalangan umat Islam sendiri. Bukan sedikit para pemerintah dalam dunia Islam yang menghalang ajaran yang sebenar. Bukan setakat hari ini; bahkan sejak zaman Islam di bawah khalifah-khalifah dalam pelbagai dinasti, ramai ulama yang ditahan, diseksa dan dibunuh. Bahkan dalam dunia Islam hari ada yang menggunakan nama ‘penguatkuasaan agama’ untuk menghalang hujah-hujah agama.
Jika di China umpamanya, penyebaran Islam secara terbuka tidak dibenarkan, tapi di Malaysia lebih menarik, artis tiada masalah ketika berdansa di khalayak ramai, tetapi didakwa apabila cuba bertazkirah agama atas alasan tauliah. Jika atas alasan ‘ajaran salah’ boleh difikir dan dinilai. Alasan tauliah semata, tidak jauh dengan alasan negara China. Bahkan berapa ramai mereka yang memiliki PhD dan Master pengajian Islam dari institusi pengajian Islam yang diiktiraf dalam dan luar negara tidak mendapat tauliah di Selangor.
Secara umumnya, apabila manusia benar-benar terhalang sehingga ruang cahaya kebenaran tidak dapat ditembusi, sehingga mereka jahil hakikat kebenaran; samada keseluruhan kebenaran atau sebahagiannya, maka kadar kejahilan manusia itu ditanggung dosanya oleh sesiapa yang menghalang hujah kebenaran untuk sampai kepada manusia.
Ini mengingatkan kita kepada surat Nabi s.a.w kepada Hercules:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, daripada Muhammad Pesuruh Allah kepada Hercules Pembesar Rom, salam sejahtera kepada sesiapa yang mengikut petunjuk. Seterusnya, aku menyeru kamu dengan seruan Islam, terimalah Islam nescaya kamu selamat. Allah akan memberikan kamu dua ganjaran. Jika kamu enggan, kamu menanggung dosa rakyat bawahanmu.
–kemudian baginda menulis firman Allah- (maksudnya):”Wahai ahli kitab, marilah kepada satu kalimah yang sama antara kami dan kamu; Iaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, dan kita tidak sekutukan dengannya sesuatu jua pun; dan jangan pula sebahagian dari kita mengambil sebahagian yang lain untuk dijadikan orang-orang yang dipuja selain dari Allah”. Kemudian jika mereka (ahli kitab itu) barpaling (enggan menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam” –Ali ‘Imran: 64. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Disesatkan
Mereka yang menjadi pengikut bawahan terdiri dari dua kelompok; pertama mereka yang benar-benar terhalang cahaya kebenaran. Mereka ini selamat di akhirat Kedua; mereka yang berpeluang mendengar hujah kebenaran tetapi memilih untuk bersama dengan para penentang kebenaran disebabkan kelebihan yang ditawarkan. Mereka tidak selamat. Al-Quran menyebutkan tentang mereka yang menyebabkan orang lain sesat dengan firmanNya: (maksudnya)
“dan sesungguhnya mereka akan menanggung beban-beban dosa mereka dan beban-beban (dosa orang-orang yang mereka sesatkan) bersama-sama dengan beban-beban dosa mereka sendiri; dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat kelak tentang apa yang mereka pernah ada-adakan secara dusta itu”. (al-Ankabut: 13)
Media di Barat sentiasa memberikan gambaran yang negatif tentang Islam. Kaitan Islam dengan militant akan dibahaskan secara langsung dan tidak langsung. Orang awam ramai menjadi begitu prejudis dan phobia dengan Islam. Tujuan mereka amat halus dan jahat. Islam menjadi begitu kabur bagi sebahagian besar masyarakat dunia. Niat buruk media-media ini dikukuhkan lagi dengan berita-berita tindakan orang Islam sendiri.
Baru-baru ini di UK ada keluarga muslim yang membunuh anak perempuan mereka yang bercinta atas alasan honor killing. Islam digambarkan tidak menghormati hak asasi, walaupun banyak yang Barat sendiri langgar. Wanita dianggap tertindas berdasarkan takrifan kebebasan yang Barat gunapakai dan juga realiti yang berlaku seperti fatwa wanita tidak boleh memandu kereta di Arab Saudi dan tindakan sebahagian yang memaksa anak perempuan kahwin, paksaan memakai purdah dan lain-lain.
Wajah Islam yang pelbagai juga begitu mengelirukan. Di UK Alhamdulillah tahun ini hariraya adha serentak. Sebelum ini, setiap aliran berlainan hari. Ada salafi, ada sufi, ada brelewi ada syiah dan entah berapa lagi puak. Ditambah lagi dengan Ismaili dan Gadiani yang juga menggunakan nama Islam. Menu yang mengelirukan, boleh menjadikan orang awam hilang selera hendak makan. Di manakah Islam yang sebenar? Media Barat membakar api atas minyak yang mengalir.
Tanggungjawab Dakwah
Tugasan kita yang sebenar menyampaikan Islam yang berasaskan dalil dan hujah. Apabila kita mengetahui kebenaran, haram kita menyembunyikannya sehingga manusia menjadi keliru dan sesat. Cuma cara sesuatu kebenaran hendak disampaikan, hendaklah dengan hikmah agar menepati sasarannya. Dosa menyembunyikan kebenaran tanpa sebab yang sah sehingga manusia sesat akan ditanggung oleh mereka yang Allah kurniakan ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Tanpa perlu menoleh kepada gelaran ulama atau bukan ulama. Setiap kita bertanggungjawab menyampaikan kebenaran dengan kadar yang ada padanya. Sama seperti zakat harta, setiap orang membayar dengan kadar hartanya.
Kita perlu jelaskan Islam yang bersumberkan nas yang sahih dan hujah yang munasabah yang sesuai berdasarkan waktu dan tempat. Sesiapa yang menyembunyikan ilmu tentang kebenaran ini sehingga tidak tertegaknya hujah yang teguh untuk manusia memahami kebenaran maka dia akan dihukum oleh Allah. Sudah pasti ulama yang menyembunyi al-haq akan lebih dahsyat dilaknat Tuhan dibandingkan orang lain. Firman Allah : (maksudnya):
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayah, sesudah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab (yang diturunkan), mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk. Kecuali orang-orang yang bertaubat, dan memperbaiki (penyelewengan mereka) serta menerangkan (apa yang mereka sembunyikan); maka orang-orang itu, Aku terima taubat mereka, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani. (Surah al-Baqarah: ayat 159-160).
Sumber: http://drmaza.com/
Langgan:
Catatan (Atom)

